Survival Family, Bagaimana Bertahan Hidup Dalam Kiamat Digital Akibat Pemadaman Listrik Global

Survival Family, Bagaimana Bertahan Hidup Dalam Kiamat Digital Akibat Pemadaman Listrik Global

Jepang telah membuat berbagai genre film fiksi seperti gempa bumi, tsunami, dan kehancuran pabrik nuklir yang menghancurkan negara mereka pada tahun 2011. Dalam masyarakat yang didorong oleh ketergantungan teknologi, "Survival Family" melihat bagaimana struktur keluarga dan masyarakat yang sudah dimanjakan dengan teknologi akan terganggu ketika dihadapkan pada pemadaman listrik global.

Siapa yang menduga jika suatu pemadaman listrik yang kita anggap sepele bisa membuat dampak yang besar bagi sebuah kota yang modern setidaknya itulah yang tergambar di dalam film Survival family ini.






"Survival Family" adalah drama keluarga yang kompeten dan juga film bencana yang dibangun dengan baik (dengan beberapa humor di atasnya), menghasilkan pengalaman yang sangat menyenangkan. Selain itu, perhatian Shinobu Yaguchi selaku sutradara terhadap detail film terlihat di setiap adegan dan visinya didukung oleh pemeran yang sempurna. Secara keseluruhan, 'pemenang penghargaan penonton' di Asian Pop-up pasti akan menyenangkan banyak penggemar film dan menawarkan perayaan yang ideal tentang kekuatan dan pentingnya keluarga.

Survival Family  bercerita tentang Suzuki seorang karyawan perusahaan di kota Tokyo. Dia memiliki keluarga kecil seperti layaknya keluarga pada umumnya kehidupan modern membuat keseharian mereka bergantung pada listrik dan teknologi seperti smartphone, komputer, TV dll.

Hal itu membuat anak-anaknya terbiasa hidup dengan cara yang instan. Kehidupan modern di kota juga membuat hubungan mereka sedikit renggang, padatnya aktifitas mebuat mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing sehingga mereka melupakan arti sebenarnya dari sebuah keluarga.

Di suatu hari terjadi pemadaman listrik di kota Tokyo, aktivitas di kota berjalan tidak seperti biasanya, hal itu, karena seluruh peralatan elektronik tidak berfungsi, kekacauan dan masalah pun muncul mulai dari lift yang macet, kereta listrik yang tidak dapat beroperasi, komputer yang tidak bisa diakses, sampai ATM yang mati total. sekalipun banyak kendala hal itu tidak menjadi alasan bagi warga Jepang  untuk tidak bekerja, mereka tetap bekerja ataupun sekolah.

Di hari itu semua warga berlalu-lalang dengan berjalan kaki sebab memang tidak ada kendaraan yang bisa ditumpangi kecuali sepeda.

Makanan, minuman, lilin, sampai korek api menjadi barang-barang yang laris diburu warga. Kartu kredit dan ATM juga tidak berguna, warga hanya mengandalkan uang tunai sebagai alat transaksi.

Saat pulang Suzuki singgah di toko sepeda Dia terpaksa membeli sepeda terakhir yang tersisa di toko itu, walaupun harganya sudah naik drastis. Di malam hari keadaan benar-benar gelar hanya lilin satu-satunya sumber cahaya yang menerangi mereka. Keran air dan Toilet juga tidak ada yang mengeluarkan air kemudian mereka saling memandangi langit kala itu dipenuhi dengan bintang-bintang suatu hal yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan.

Masuk di hari ketiga listrik tak kunjung menyala Suzuki dan karyawan yang lainnya diliburkan. Bosnya memberitahu Suzuki bahwa di situasi seperti ini kota Tokyo mungkin saja sudah tidak aman, bosnya berpamitan dia pergi bersama keluarganya untuk mencari sumber air di pegunungan.

Istri Suzuki bersama warga yang lainnya mendatangi kantor PDAM terdekat Namun sayang mereka tidak mendapatkan air untuk mereka minum, hal itu karena mesin air saat itu tidak dapat bekerja dalam kurun waktu 7 Hari.

Kota Tokyo seketika menjadi kota yang mati, para warga memutuskan untuk bermigrasi ke pelosok desa. Keluarga Suzuki yang Rencananya akan pulang ke rumah mertuanya.

Sepanjang perjalanan mereka menjumpai pedagang air mineral tetapi harga yang ditawarkan berkali-kali lipat sangatlah mahal.

Di jalan keluarga Suzuki dan para warga yang lain berbondong-bondong pergi ke bandara namun apalah dikata karena semua yang berhubungan dengan listrik mati, pesawat pun juga tidak bisa beroperasi.

Di malam itu Suzuki berencana mengajak keluarganya untuk pergi ke kagoshima dengan bersepeda jarak dari Tokyo ke kagoshima sendiri adalah 850 mil sebuah jarak yang sangat jauh bila dilalui dengan bersepeda namun putrinya lagi-lagi menolak dia ingin kembali ke apartemen menjelaskan bahwa keadaan seperti ini hidup di kota adalah hal yang mustahil untuk dilakukan sebab makanan dan minuman sangat langka untuk diperoleh.

Esok harinya anak-anaknya pergi ke toko buku mereka mencari sebuah peta agar memudahkan mereka di perjalanan istrinya mendengar rumor bahwa di kota Osaka tidak terjadi pemadaman listrik tetapi hal itu belum pasti kebenarannya.

Lalu Suzuki melihat sepeda yang tidak terpakai di rumah orang dia berniat untuk membelinya akan tetapi di saat itu jam tangan bahkan sampai mobil ataupun barang mewah yang lainnya sudah tidak bernilai harganya.



Penjual beras bahkan hanya mau berasnya tukar dengan air ataupun makanan yang lainnya. Suzuki lantas menukar minumannya dengan sepeda sekantong beras mereka lalu melanjutkan perjalanan Setelah mengayuh sepeda selama berjam-jam tibalah mereka di jalan tol di sana mereka berjumpa dengan banyak warga yang berbondong-bondong melakukan migrasi.

Perjalanan mereka yang lucu dan menyentuh mengajarkan mereka kemandirian dan kerja sama saat anak-anak tumbuh dewasa. Mereka juga harus menghadapi dan berbagai tantangan termasuk hujan badai yang hebat, anjing gila dan unggas yang kabur! Komedi ramah  sebuah keluarga yang menyenangkan dalam film ini.

Kehidupan keluarga terlalu mudah di era teknologi modern. Dengan satu tangan kita dapat memasukkan makanan ke dalam microwave atau memutar keran air, sementara dengan tangan dan jari lainnya kita dapat mengetik di telepon dan mengabaikan orang-orang yang paling penting di sekitar kita. Sutradara Shinobu Yaguchi menggunakan Survival Family untuk mengeksplorasi dinamika di dalam unit keluarga, " apa yang terjadi jika setiap kenyamanan dalam hidup dirampas?".

Selain semua pujian saya untuk Survival Family, semua peran karakter, desain set yang mahal dan skrip yang menarik.

Pesan moral apa yang didapat dari film ini?  Di akhir film, keluarga Suzuki benar-benar telah Belajar Bagaimana Bertahan Hidup Dalam Kiamat Digital.