Kisah Inspirasi, Jatuh Dua Kali Berdiri Tiga Kali, Cerita Semangkuk Mie Kuah

Kisah Inspirasi, Jatuh Dua Kali Berdiri Tiga Kali, Cerita Semangkuk Mie Kuah

Cerita yang terinspirasi dari buku motivasi karangan Li Shi Guang berjudul "Jatuh 2X Berdiri 3X" atau "The Amazing Passion and Successful Business Strategy Of Japan" yang membahas mengenai bagaimana Negara Jepang dapat menjadi Negara yang sukses dan maju dan buku ini juga ada beberapa cerita pendek yang dapat menginsiparasi kita. Berikut salah satu cerita pendeknya Berjudul “Semangkuk Mie Kuah”. 
 
Cerita ini berkisah tentang yang terjadi pada malam Chu Si (malam menjelang Tahun Baru Imlek), berjumlah sebanyak 50 halaman lebih. Yang menceritakan kisah yang mengharukan banyak orang Jepang. Cerita ini dinamakan “Semangkuk Mie Kuah”, yang diterjemahkan oleh Li Kuei Chuen.






Lima belas tahun yang lalu pada saat tanggal 31 bulan Desember, di jalan Sapporo, kota Jepang pada malam Chu Si atau malam menjelang imlek. Ada toko mie yang bernama “Pei Hai Thing”. (yang dapat diartikan Pei=Utara, Hai=Laut, Thing=Kios, Toko).
 
Makan mie disaat malam Chu Si merupakan adat dari turun-temurun orang Jepang. Hari itu pendapatan dari toko-toko mie sangatlah baik, tidak terkecuali Pei Hai Thing. Hampir setiap hari penuh pengunjung. Namun setelah pukul 22.00 tidak ada lagi pengunjung yang datang, padahal biasanya jalanan sangat ramai hingga waktu subuh. Tetapi karena semua orang terburu-buru pulang ke rumah untuk merayakan tahun baru, maka pada hari itu jalan menjadi cepat sepi.

Semangkuk Mie Kuah Versi Jepang (video Awal) film Jepang ini memberi banyak orang kekuatan dan cahaya terang dalam kesulitan
 
Pemilik dari toko mie “Pei Hai Thing” adalah seseorang yang jujur dan baik hati, istrinya pun adalah orang yang ramah tamah (Jawanya tepo seliro) dan melayani orang dengan penuh kehangatan. Pada saat akan menutup toko, tiba-tiba ada seorang wanita membawa kedua anaknya berjalan masuk ke toko, anaknya itu kira-kira berumur sekitar 6 tahun dan 10 tahun, mereka mengenakan baju olahraga baru tetapi wanita tersebut malah memakai pakaian bercorak yang keliatannya telah lusuh.
 
Wanita itu berkata dengan takut-takut dan malu, “Bolehkah kami memesan semangkuk mie kuah?” tanyanya. Kedua anaknya saling berpandang tidak tenang.
 
Sang istri pemilik toko mengajak mereka ke meja nomor 2 di paling pinggir, lalu berteriak dengan lantang dan keras ke arah dapur “Semangkuk mie kuah!”
 
Sebenarnya porsi semangkuk hanya untuk satu orang dengan satu ikat mie, namun sang pemilik toko menambahkan lagi sebanyak setengah ikat dan menyiapkannya dalam sebuah mangkuk besar penuh, tetapi hal ini tidak diketahui sang istri (pemilik toko) dan tamunya itu. Ibu dan kedua anaknya mengelilingi semangkuk mie kuah itu sambil berbicara dengan suara kecil bahwa betapa enak sekali mienya.
 
Tak terasa setahun berlalu. Usaha Pei Hai Thing tetap ramai. Ketika hendak menutup toko, pintu terbuka lagi dan seorang wanita tua sambil membawa dua orang anaknya masuk. Ketika melihat baju yang dikenakan bercorak kotak yang telah lusuh, seketika sang istri pemilik toko kembali teringat tahun lalu.
 
Mereka pun memesan semangkuk mie. Sang pemilik toko mie itu mulai menyalakan kembali api yang baru saja dipadamkan. Istrinya diam-diam berbisik dan berkata di samping telinga suami, “Hei, masak 3 mangkuk untuk mereka, boleh tidak?” “Jangan, nanti mereka merasa tidak enak.” kata sang pemilik kepada istrinya sambil menambahkan mie lagi ke dalam kuah yang mendidih. Ibu dan kedua anaknya memuji mie tersebut yang rasanya enak sekali. Walaupun mereka membayar dengan harga yang lama, Namun suami istri dari pemilik Pei Hai Thing tidak meminta kekurangannya.
 
Pada tahun ketiga, pemilik toko tergesa-gesa membalikkan setiap lembar daftar harga yang tergantung di dinding dan daftar kenaikan harga mie kuah ditulis ulang menjadi harga lama. Di atas meja nomor 2, sang istri pun meletakkan kartu tanda yang telah dipesan. Setelah itu waktu menunjukkan lewat jam 22.00, ibu dengan dua orang anaknya muncul kembali.
 
Sang kakak sekarang memakai seragam SMP, sang adik mengenakan jaket, yang kelihatan agak kebesaran, baju yang dipakai kakaknya tahun lalu. Kedua anak ini mulai kelihatan tumbuh dewasa, sang ibu tetap memakai pakaian bercorak kotak lusuh yang telah luntur warnanya.
 
Sang istri pemilik toko mie tersebut mengajak mereka ke meja nomor 2 dan dengan cepat menyembunyikan tanda telah dipesan yang sebelumnya diletakkan di sana. “Tolong…tolong buatkan 2 mangkuk mie, bolehkah?” Sang pemilik toko langsung memasak tiga mie kuah ke dalam panci yang mendidih. Ibu dan kedua anaknya makan dengan gembira. Sepasang suami istri pemilik toko turut merasakan kegembiraan mereka.
 
Dari pembicaraan mereka, terdengar ternyata suami dari wanita itu mengalami kecelakaan dan meninggalkan hutang yang harus membayar mahal untuk pengobatan sehingga anaknya yang besar harus menjual koran dan anak yang bungsu membantu membeli sayur dan masak nasi. Berkat usaha dari kedua anak tersebut, mereka dapat membayar sisa dari biaya pengobatan sampai lunas. Akan tetapi, ada sebuah kisah megharukan lagi di balik kejadian itu.
 
Anak bungsu dari ibu tersebut menulis sebuah karangan dan terpilih secara khusus menjadi wakil kelas di wilayah tempat mereka tinggal. Judul karangannya adalah “Cita-Citaku”, yang bertema semangkuk mie kuah. “Ayah mereka mengalami kecelakaan lalu lintas, sehingga meninggalkan banyak hutang.

Untuk membayar lunas hutang tersebut ibunya harus bekerja keras dari pagi sampai malam, kakaknya juga harus mengantar koran. Pada saat malam tahun baru, kami bertiga bersama memakan semangkuk mie kuah yang sangatlah lezat rasanya.

Kami bertiga tapi hanya memesan semangkuk mie kuah. Namun Pemilik toko yaitu paman dan istrinya malah mengucapkan terima kasih kepada kami! Suaranya memberikan dorongan semangat untuk kami agar tegar untuk menjalani hidup,  sehingga kami berusaha secepatnya melunasi hutang ayah.” Itulah isi sebagian dari karangannya. Mendengarnya bercerita membuat pemilik toko dan istrinya menangis terharu.
 
Tahun demi Tahun berlalu dan usaha dari Toko mie “Pei Hai Thing” semakin bagus, bangunan tokonya pun telah direnovasi, meja dan kursinya telah diganti dengan yang baru, tetapi meja nomor 2 masih tetap pada aslinya..
 
Meja nomor 2 itu lantas menjadi “Meja Keberuntungan”, setiap pengunjung menyampaikan kisah ini kepada yang lainnya, sehingga ada banyak pelajar yang merasa ingin tahu, bahkan datang dari jauh.
 
Sekarang semua orang sedang berkumpul pada malam Chu Si di toko mie “Pei Hai Thing”. Disitu banyak orang sedang makan mie, sebagian juga ada yang minum arak, semuanya berkumpul seperti sebuah keluarga. Setelah lewat pukul 22.00, pintu dengan tiba-tiba … terbuka kembali. 
 
Mereka melihat dua orang remaja yang berpakaian stelan jas yang rapi, berjalan melangkah masuk.
 
Saat istri pemilik toko mengatakan meja makan telah penuh dan memberitahu tamu tersebut, sesaat muncullah seorang wanita berpakaian kimono berjalan masuk, berdiri di tengah kedua remaja tersebut.
 
Belasan tahun telah berlalu, Seketika sang istri pemilik toko seperti mengingat kembali gambaran ibu muda dengan dua orang anaknya pada 10 tahun yang lalu. Sang suami sekaligus pemilik toko di balik dapur pun termenung.

Dikembangkan Kedalam cerita pendek oleh Sam Ripyu



Ibu dan anak tersebut menatap sang istri pemilik toko yang salah tingkah tersebut, kemudian si ibu mengatakan “Kami bertiga ibu dan anak, pada 14 tahun yang lalu pernah memesan semangkuk mie kuah di malam Chu Si. Yang mendapatkan dorongan semangat dari semangkuk mie tersebut, kami ibu dan anak bertiga baru dapat menjalani hidup dengan tegar.”

Sang istri pemilik toko akhirnya mengingatnya, dan menepuk bahu sang suami sambil berkata “Selamat datang! Silakan! Duduk di meja nomor 2, pesan tiga mangkuk mie kuah.”

Pesan yang dapat dipetik dari cerita ini: Hari ini maupun hari lainnya mungkin kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi teruslah berbuat baik. Selalu ada manfaat yang bisa dipetik atas kejadian dalam menjalani hidup. Disaat kita dengan sungguh-sungguh melakukan apa yang kita kerjakan. Tuhan akan selalu membantu.. Happy Chinese New Year.