Tradisi Tahun Baru Imlek, Sejarah Singkat Angpao

Tradisi Tahun Baru Imlek, Sejarah Singkat Angpao

Dalam masyarakat Cina dan beberapa Asia Tenggara, angpao / amplop merah atau hong bao (Mandarin) adalah hadiah uang yang diberikan selama acara-acara khusus seperti pernikahan dan, terutama, Tahun Baru Imlek. Namun, pentingnya angpao bukanlah uang yang disimpan di dalamnya, Ini karena warna merah melambangkan keberuntungan dan kemakmuran dalam budaya Tionghoa. Tetapi bagaimana asal mula kebiasaan memberi angpao dan bagaimana hal itu berkembang untuk beradaptasi dengan dunia modern saat ini? Ayo cari tahu…
 
Penasaran bagaimana dan kapan kegiatan pemberian angpao dimulai? Ada tiga legenda seputar kebiasaan membagikan angpao.






Legenda pertama. Dipercaya secara luas bahwa pemberian angpao tersebut berawal dari Dinasti Qin (221 SM - 206 SM). Delapan Dewa mengubah diri mereka menjadi koin untuk membantu orang tua menyelamatkan anak-anak mereka dari setan jahat bernama Sui, yang menerornya saat anak-anak tidur. Pada suatu malam tahun baru, saat Sui tampak menyakiti anak-anak, koin, yang diberikan kepada anak itu, menghasilkan cahaya yang kuat untuk menangkal setan. Cerita ini kemudian mendorong orang tua untuk memberikan uang yang dibungkus kertas merah kepada anak-anak mereka, itulah istilah yā su qan (uang yang menekan Sui).
 
 

Sui dikatakan benar-benar hitam, kecuali tangannya, yang tidak berwarna. Ia diketahui muncul setiap Malam Tahun Baru Imlek pada malam hari untuk menyentuh kepala anak yang sedang tidur sebanyak tiga kali, menyebabkan anak tersebut jatuh sakit parah atau bahkan mengakibatkan kematiannya.

Orang tua akan begadang sepanjang malam untuk mengawasi anak-anak mereka saat iblis melanjutkan serangan terornya, sampai pasangan yang khawatir memutuskan untuk berdoa kepada tuhan mereka untuk melindungi anak mereka yang baru lahir. Mendengar doa mereka, dewa mengirim delapan peri untuk membantu keluarga kecil itu. Para peri mengubah diri menjadi delapan koin untuk mengelabui iblis, yang kemudian dibungkus dengan kertas merah dan ditempatkan di bawah bantal bayi.

Semua orang akhirnya menyerah untuk tidur, dan saat itulah Sui muncul. Saat dia mendekati tempat tidur bayi,sinar cahaya keemasan meledak dari kertas merah dan membuat Sui takut !

Kisah ajaib segera menyebar ke seluruh desa, dan semua orang mulai membungkus koin dengan kertas merah untuk melindungi anak-anak mereka dari Sui. Seiring berjalannya waktu, angpao tidak lagi menjadi pelindung dari roh jahat dan menjadi simbol harapan dan berkah bagi anak-anak.

 
Legenda kedua. Menceritakan peristiwa ketika putra Kaisar Xuanzong dari Dinasti Tang lahir. Untuk melindungi bayinya, Kaisar memberikan koin emas dan perak kepada selirnya untuk digunakan sebagai jimat. Selanjutnya, praktik ini diadopsi oleh rakyat jelata dan mereka mulai memberikan hadiah uang kepada anak-anak mereka.

Legenda ketiga. Dalam cerita ini, mengatakan bahwa angpao pertama diberikan kepada seorang anak yatim piatu yang pemberani setelah dia mengalahkan iblis seperti naga dan menyelamatkan sebuah desa selama Dinasti Song.
 
 

Suatu waktu selama Dinasti Song (960–1279), sebuah desa bernama Chang-Chieu sedang diteror oleh setan raksasa berbentuk naga. Tak seorang pun di desa ini yang bisa mengalahkannya, bahkan pejuang dan negarawan terhebat mereka ... sampai seorang anak yatim piatu datang bersenjatakan pedang ajaib yang diwarisi dari leluhurnya.

Pemuda itu bertarung dan akhirnya menghancurkan naga itu. Penduduk desa sangat gembira dan memberi anak yatim piatu yang pemberani itu dengan amplop merah (atau kemungkinan besar, kantong) berisi uang untuk berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan desa.

Evolusi Desain Angpao
Ketika kita berbicara tentang evolusi angpao, bukan hanya penggunaan dan distribusinya yang berubah menyesuaikan diri dengan masyarakat modern. Desainnya juga mengikuti. Lihatlah angpao dulu dan sekarang:

1. Warna
  • Dulu: Angpao tradisional kebanyakan dicetak dengan warna merah, dengan pola emas dan tulisan di atasnya.
  • Sekarang: Meskipun hari ini merah dan emas masih digunakan untuk desain yang lebih klasik, kebanyakan angpao modern menampilkan banyak warna cerah lainnya seperti merah muda, oranye, kuning, dll. Beberapa desain bahkan dicetak dalam warna penuh untuk tampilan yang lebih menyenangkan. Namun, aturan praktisnya adalah menghindari penggunaan warna hitam dan putih sebagai warna primer, karena warna ini sering dikaitkan dengan pemakaman dalam budaya Tiongkok.
2. Ukuran
  • Dulu: Angpao berukuran lebih kecil, dan uang kertas sering kali dilipat dua.
  • Sekarang: Angpao modern biasanya berbentuk lebih panjang hanya sedikit lebih besar dari lembaran uang kertas yang tidak dilipat.
3. Kertas
  • Dulu: Kertas cangkang telur sejenis kertas bertekstur paling umum digunakan.
  • Sekarang: Berbagai jenis kertas dilapisi atau tidak. Kertas berlapis seperti kertas seni paling cocok untuk desain yang dimaksudkan agar cerah dan menarik; sedangkan kertas tanpa lapisan seperti kertas corak kayu memberikan tampilan yang lebih kalem dan alami.
4. Segel
  • Dulu: Angpao  tradisional sering kali dilengkapi dengan segel perekat di bagian belakang.
  • Sekarang: Angpao modern memiliki garis potong yang memungkinkan flap ditempatkan.
5. Finishing
  • Dulu: Hot stamping emas paling banyak digunakan.
  • Sekarang: Hot stamps masih banyak digunakan sampai saat ini,  tetapi dengan lebih banyak pilihan warna seperti merah, pink, biru, tembaga, dll. Spot UV varnish, die-cutting dan lamination matt, gloss atau velvet juga biasa digunakan untuk angpao modern saat ini.
6. Pengemasan
  • Dulu: Angpao biasanya dikemas dalam polybags bening dan ditutup rapat.
  • Sekarang: Polybags bening masih umum namun terkadang anggaran menjadi kendala. Tetapi beberapa Angpao dikemas dalam selongsong yang dicetak untuk keunggulan tambahan.

Bagaimana perkembangannya:
Saat ini, pemberian angpao telah diperluas hingga mencakup acara-acara bahagia lainnya, seperti pernikahan, wisuda, ulang tahun, dll. Pada tahun 2014, aplikasi seluler China WeChat bahkan mempopulerkan angpao digital dengan memperkenalkan kemampuan untuk mendistribusikan angpao virtual ke kontak dan grup melalui platform pembayaran selulernya.
 
Di luar Tiongkok, tradisi ini telah melewati batas budaya dan agama. Ini diadopsi di negara-negara seperti Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura, oleh Muslim Melayu sebagai bagian dari perayaan Idul Fitri mereka. Tapi alih-alih amplop merah, yang digunakan adalah amplop hijau. Begitu pula dengan Deepavali, komunitas Hindu lokal di Malaysia dan Singapura telah mengadopsi tradisi tersebut dengan menggunakan amplop ungu atau kuning sebagai pengganti amplop merah.

Sejarah dan Tradisi Tahun Baru Imlek
Perayaan Tahun Baru Imlek tentunya tidak asing lagi di telinga kita. Baik bagi kalian yang merayakan atau pun tidak, pastinya menunggu datangnya tahun baru imlek dengan segala keuntungannya. Tapi kalian sudah tau belum sejarah dibalik perayaan Imlek ini, mungkin saja ada fakta unik yang kamu bisa temukan disini!

Sejarah Tahun Baru Imlek
Lunar New Year merupakan sebuah perayaan tahun baru, yang dihitung bukan berdasarkan kalender masehi, melainkan menggunakan Lunar Calendar yang dulu digunakan pada tradisi China.

Nah ini juga yang menjadi alasan mengapa tanggal perayaan tahun baru Imlek selalu berubah-ubah tiap tahuna. Selain Lunar New year, ada juga yang menyebut perayaan ini sebagai Spring Festival (chunjie, 春节) atau festival musim semi dalam bahasa Indonesia.

Alasan datangnya momen perayaan Lunar New Year biasanya bersamaan dengan berakhirnya masa-masa musim dingin yang berarti setiap orang dapat kembali bercocok tanam yang juga menjadi lambagng atau simbol datangnya kemakmuran.

Tahun Baru Imlek dan Tradisi
Tahun baru  imlek, memiliki beberapa tradisi yang sudah cukup terkenal bahkan untuk kalian yang tidak merayakannya, tapi ada yang tahu makna dibaliknya?

Pada zaman Dahulu diceritakan ada seekor monster bernama “Nian“. Dengan perawakan wujud menyerupai hewan singa, Nian selalu terbangun setiap perayaan tahun baru imlek untuk memakan dan memangsa manusia serta hewan.

Nian disebutkan memiliki 3 kelemahan:
  • Warna Merah
  • Suara Keras
  • Api
Kelemahan inilah yang biasa dijadikan dasar dari tradisi imlek. Seperti petasan contohnya, tradisi ini diangkat dari ceita seorang anak lelaki yang menggunakan petasan untuk membuat suara bersik dan mengusir Nian dari desanya.

Sedangkan lantern berwarna merah juga digunakan sebagai hiasan imlek sebagi simbol dari api dan warna merah yang ditakuti Nian. Ini menjadi alasan kenapa mereka yang merayakan imlek harus menggunakan pakaian berwarna merah!

Di Indonesia “Nian” lebih dikenal dengan nama Barongsai, itu sebabnya penari barongsai akan terus menari dan mendatangi penonton setelah itu baru pergi setelah diberi amplop merah, agar Nian atau barongsai pergi.



Pada kalender China setiap tahun dilambangkan dengan hewan-hewan yang ada di Chinese Zodiac. 

Contohnya tahun ini kita merayakan tahun kerbau, maka tahun depan kita akan merayakan tahun harimau, diikuti dengan tahun kelinci dan seterusnya.

Berikut contoh sifat dan kepribadian di Chinese Zodiac:

  • Tikus : Suka menabung dan mengumpulkan barang.
  • Kerbau : Pekerja keras dan bertanggung jawab.
  • Harimau : Mandiri dan percaya diri.
  • Kelinci : Lemah lembut, pendiam, dan sopan.
  • Naga : Petualang dan romantis.
  • Ular : Idealis dan antusias.
  • Kuda : Pantang menyerah dan energik
  • Kambing : Suci dan baik hati.
  • Monyet : Ingin tahu dan senang bergaul.
  • Ayam : Simpatik dan kreatif.
  • Anjing : Loyal dan berpendirian. 
  • Babi : Berpikir logis dan tahan banting.
Semoga wawasan dan pengetahuan kalian bertambah ya!
Untuk kalian yang merayakan, Selamat Tahun Baru Imlek ya..